kuliner
Tradisi Unik Panggil Anak 'Anjing' di China dan Filosofi Kuliner 'Comfort Food' Bersahaja di Surabaya
Oleh Tim Redaksi • 25 Oktober 2026
Menelisik Akar Tradisi Kuno Tiongkok: Memanggil Anak dengan Nama Hewan
Dalam dinamika budaya global, interaksi antar-generasi kerap menyimpan cerita unik yang jarang diketahui publik modern. Salah satu tradisi kuno dari Tiongkok yang kembali viral di berbagai platform pencarian dan media sosial adalah kebiasaan orang tua memanggil anak mereka dengan julukan 'Gouzi' (anak anjing) atau 'Zhuza' (anak babi).
Bagi masyarakat awam, penyematan nama hewan kepada buah hati terdengar kasar atau bahkan merendahkan. Namun, secara historis dan antropologis, praktik ini sarat makna protektif. Masyarakat Tiongkok zaman dahulu percaya bahwa anak-anak yang terlampau dicintai rentan "diambil" oleh roh jahat. Dengan memberikan nama atau panggilan yang dianggap rendah atau hina seperti hewan, roh-roh tersebut diyakini akan mengabaikan sang anak, sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, panjang umur, dan membawa keberkahan.
Meskipun era modern telah mengubah lanskap sosial dan tradisi ini kini hanya dipraktikkan oleh sebagian kecil masyarakat tradisional, fenomena ini membuktikan bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu yang 'sederhana' sering kali menyimpan nilai filosofis yang mendalam.
Filosofi Kesederhanaan: Dari Tradisi Leluhur ke Tren Kuliner Nusantara
Filosofi bahwa kesederhanaan justru membawa berkah dan kehangatan tidak hanya berlaku dalam tatanan keluarga, tetapi juga merambah ke dunia kuliner. Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya, tren kuliner bergeser dari sekadar kemewahan visual menuju pencarian comfort food—makanan rumahan yang membangkitkan nostalgia, jujur dalam rasa, dan ramah di kantong.
Kategori kuliner yang berbasis bahan-bahan harian kini menjelma menjadi primadona baru di kancah street food nasional. Masyarakat, mulai dari generasi Z hingga kaum profesional, mendefinisikan ulang makna 'kelezatan' bukan lagi pada hidangan yang rumit, melainkan pada keautentikan rasa yang mengingatkan mereka pada masakan rumah.
Menikmati Kehangatan Autentik di NDOG! Tenggilis
Semangat kesederhanaan yang menghadirkan kebahagiaan paripurna ini dapat ditemukan dalam fenomena kuliner lokal Surabaya. Mengambil inspirasi dari makanan harian yang paling merakyat, NDOG! Tenggilis hadir sebagai pionir comfort food yang merayakan kelezatan telur dadar dengan sentuhan modern.
Sebagai destinasi kuliner favorit pencinta makanan gurih, NDOG! Tenggilis berhasil memikat lidah masyarakat lewat menu andalannya: telur dadar kribo yang renyah di luar, lembut di dalam, dipadu dengan pilihan sambal khas Nusantara yang pedasnya menggugah selera. Di sini, hidangan yang tadinya dianggap menu darurat rumahan disulap menjadi sajian bintang lima yang sarat cita rasa.
Mengapa Kuliner Berbasis 'Comfort Food' Terus Dicari?
Sebagaimana tradisi kuno Tiongkok yang melihat berkah dalam kesederhanaan penyebutan, industri kuliner Indonesia terus membuktikan bahwa kelezatan hakiki sering kali berakar dari hal-hal paling jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.