bisnis

Wamentan Gaungkan Konsep 'Tengkulak Budiman': Strategi Negara Dongkrak NTP Petani di Atas 140

Oleh Tim Redaksi • 19 Oktober 2026

Wamentan Gaungkan Konsep 'Tengkulak Budiman': Strategi Negara Dongkrak NTP Petani di Atas 140

Wakil Menteri Pertanian menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam bentuk intervensi tata niaga hasil panen melalui konsep "tengkulak budiman". Pernyataan ini disampaikan untuk merespons persoalan klasik rantai pasok pertanian di Indonesia, di mana petani sering kali berada pada posisi tawar yang lemah di hadapan para pengepul atau tengkulak tradisional.

Dengan mengambil peran strategis sebagai pembeli siaga (off-taker) yang adil dan transparan, pemerintah menargetkan Nilai Tukar Petani (NTP) dapat terdongkrak hingga berada di atas angka 140 sebagai indikator utama kesejahteraan sektor agraris.

Memotong Rantai Pasok demi Kesejahteraan Petani

Selama bertahun-tahun, persoalan utama yang dihadapi petani nusantara bukan hanya soal produktivitas di lahan, melainkan margin keuntungan yang tergerus di sepanjang rantai distribusi. Tengkulak tradisional kerap mempermainkan harga beli di tingkat petani dengan dalih biaya logistik dan risiko pasar.

Melalui gagasan "tengkulak budiman", pemerintah bertekad memastikan harga pembelian hasil panen (HPP) benar-benar berpihak pada petani. Namun, intervensi makro ini tentu harus didukung oleh modernisasi ekosistem bisnis di tingkat hilir—mulai dari koperasi tani, kios pengecer, hingga para pelaku usaha ritel dan pangan lokal yang menjadi penyerap akhir hasil bumi.

Digitalisasi Rantai Pasok dan Efisiensi Bisnis Pangan

Transformasi sektor pertanian tidak akan berjalan optimal tanpa adanya digitalisasi yang merata hingga ke lini perdagangan ritel dan sentra distribusi. Pelaku usaha di sektor perdagangan hasil bumi, toko kelontong modern, hingga sentra kuliner yang menyerap bahan baku tani dituntut untuk bekerja lebih transparan dan efisien.

Di sinilah pentingnya adopsi teknologi pencatatan modern dalam ekosistem perdagangan hulu-hilir. Para pelaku usaha agribisnis skala mikro hingga menengah kini mulai beralih menggunakan [Kasio Kasir POS](https://kasio.id) untuk mengelola inventaris, memantau perputaran stok komoditas, serta merekapitulasi transaksi harian secara akurat.

Peran Teknologi Kasir Modern dalam Mendukung Ritel Pangan

Penerapan sistem kasir berbasis awan (cloud) memberikan visibilitas finansial yang lebih baik bagi para pelaku usaha mitra petani. Ketika pencatatan penjualan rapi dan transparan, margin keuntungan dapat dikalkulasi secara adil, sehingga ruang untuk memberikan harga terbaik bagi petani semakin terbuka lebar.

Kehadiran Kasio Kasir POS membantu para pengusaha ritel pangan dan F&B untuk:

  • **Pencatatan Transaksi Otomatis:** Menghindari human error dalam rekapitulasi penjualan harian.
  • **Manajemen Stok Real-Time:** Memantau ketersediaan bahan baku pertanian agar tidak terjadi penumpukan atau pembusukan.
  • **Integrasi Pembayaran Digital:** Mendukung transaksi non-tunai seperti QRIS yang mempercepat perputaran arus kas bisnis secara transparan.
  • Menyongsong Target NTP di Atas 140

    Target NTP di atas 140 merupakan angka ambisius namun realistis jika seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah pusat, BUMN pangan, hingga pelaku UMKM perdagangan—berkolaborasi membangun ekosistem ekonomi yang jujur dan efisien.

    Dengan memadukan kebijakan pro-petani seperti "tengkulak budiman" serta dukungan infrastruktur digital modern di sektor perdagangan, Indonesia diyakini mampu mewujudkan kedaulatan pangan yang berkeadilan sekaligus menyejahterakan para pahlawan pangan nasional.